Masih butuhkah kita pada agama? Pertanyaan semacam ini berkabar keprihatinan dan letih akan carut marut yang terjadi dalam relasi antar umat beragama. Keberimanan kita disakiti sedemikian rupa dengan keadaan sosial-budaya yang diperlihatkan oleh antar umat beragama yang seringkali tak bersahabat.
Konflik-konflik horizontal semakin meruncing dan saling menajamkan diri di tengah masyarakat dengan atas nama agama. Keberbincangan kebenaran, keadilan, kekafiran dan sebagainya menjadi ruang pengadilan dengan membawa bendera agama tertentu. Agama seringkali tampil sebagai cambuk dan bumbu konflik yang terjadi untuk memenuhi hasrat nafsiyah dirinya sebagai manusia yang angkuh dan tak tahu diri. Mereka lupa bahwa agama memiliki dimensi yang tak dapat kita lupakan begitu saja.