Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 November 2010

Masih Butuhkah Kita Pada Agama?

Masih butuhkah kita pada agama? Pertanyaan semacam ini berkabar keprihatinan dan letih akan carut marut yang terjadi dalam relasi antar umat beragama. Keberimanan kita disakiti sedemikian rupa dengan keadaan sosial-budaya yang diperlihatkan oleh antar umat beragama yang seringkali tak bersahabat.

Konflik-konflik horizontal semakin meruncing dan saling menajamkan diri di tengah masyarakat dengan atas nama agama. Keberbincangan kebenaran, keadilan, kekafiran dan sebagainya menjadi ruang pengadilan dengan membawa bendera agama tertentu. Agama seringkali tampil sebagai cambuk dan bumbu konflik yang terjadi untuk memenuhi hasrat nafsiyah dirinya sebagai manusia yang angkuh dan tak tahu diri. Mereka lupa bahwa agama memiliki dimensi yang tak dapat kita lupakan begitu saja.

Rabu, 10 November 2010

Tipologi Sikap Beragama

Komarudin Hidayat menyebutkan adanya lima tipologi sikap keberagamaan, yakni “eksklusivisme, inklusivisme, pluralisme, eklektivisme, dan universalisme”.

Kelima tipologi ini tidak berarti masing-masing lepas dan terputus dari yang lain dan tidak pula permanen, tetapi lebih tepat dikatakan sebagai sebuah kecenderungan menonjol, mengingat setiap agama maupun sikap keberagamaan senantiasa memiliki potensi untuk melahirkan kelima sikap di atas.[1]

Ninian Smart; Dimensi-Dimensi Agama

Berdasarkan defenisi atau pemahaman agama sebagaimana yang pernah kita dengar, maka kita dapat membahas agama pada dua perspektif, yaitu agama menurut dirinya dan agama menurut pemeluknya.

Kalau memakai bahasa Immanuel Kant agama menurut dirinya itu adalah das ding an sich, adalah agama yang objektif atau agama yang hanya dapat dipahami menurut dirinya. Karena itu, tidak bisa mengukurnya berdasarkan ukuran kita. Agama yang das ding an sich itu tidak mungkin bisa dimengerti keseluruhannya, sebab kita hanya selalu di luar. Inilah yang menjadi dasar dari cara memahami agama atau dalam kajian studi agama.